Terpuruk…

Padang, 21 September 2015

Rokok yang kuhisap benar benar membuat lidahku kelu tak karuan. Di antara gedung F dan Perpustakaan Universitas ini terdapat sebuah kedai yang menjual jajanan favorit mahasiswa, termasuk rokok. Ya, aku adalah seorang perokok. Namun, hanya perokok kelas bawah. Hanya mampu membeli per batang. Akan tetapi, dari hati kecilku terbesit keinginan untuk berhenti. Sulit memang, namun apalah daya. Aku benar benar kecanduan. Lupakan…

Kembali ke lokasi yang aku jabarkan di awal. Disini, aku hanya terpekur meratapi nasib. Ya Allah, ampunilah dosa dosaku, dosa orang yang telah kusakiti, dosa orang yang telah menyakitiku. Mereka amat berarti bagiku, dalam melukiskan setiap perjalanan hidupku. Tangis, canda, tawa, suka, dan duka yang pernah ada. Laksana jejak kaki yang kuinjakkan di padang pasir, lalu disapu oleh ganasnya badai tanpa belas kasihan.

Mahasiswa Ilmu Hukum semester 5, adalah statusku saat ini. Terombang ambing diantara ribuan mahasiswa lainnya yang tengah mengejar gelar Sarjana Hukum. Dan ceritaku, berawal dari sini, selamat membaca.

* * *

Bismillahirrahmaanirrahim.
Bunyi cat pylox disemprotkan membesit disana disini. “Gue lulus” teriakan euphoria calon-calon mahasiswa angkatan 2013. Pikirku, kala itu bukan perpisahan yang menarik. Adanya perpecahan diantara mantan siswa/calon mahasiswa membuat hatiku berontak. Sedih memang. Langkah yang telah ditempuh bersama-sama selama 3 tahun harus berakhir disini. Menyisakan perpecahan tak jelas, entah itu konflik kadaluarsa IPA-IPS atau perang dingin antar kubu? Demi Allah aku benar benar tidak tahu dan tidak mau tahu. Masa bodoh dengan semua itu. Pada akhirnya, SAMPAI JUMPA DI CERITA KEHIDUPAN BERIKUTNYA KAWAN, KITA SAHABAT SEJATI.

Berbeda dengan kelulusan SD, SMP, atau bahkan wisuda Sarjana sekalipun. Kelulusan SMA bukan berarti istirahat total setelah menuai hasil Ujian Nasional. Mau tak mau, mantan siswa/calon mahasiswa harus menjalani program bimbingan belajar demi lulus di Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri Indonesia. Akupun melakukan hal yang sama.

Beberapa minggu kemudian, hasil kelulusan Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri Jalur Undangan telah di publikasikan. Aku dan beberapa sahabatku Remo, Lomo, dan Nuar harap-harap cemas akan hal ini. Pulang bimbel pada hari itu, kami menyempatkan untuk bermain Pro Evolution Soccer Playstation 3 di daerah Jati, Padang (catatan: bukan kelurahan Jatipadang di Jakarta) satu babak, dua babak, aku kalah. Demi Allah ini pertanda buruk, kala itu aku yang masih percaya firasat benar benar cemas. Apa yang aku dan sahabatku lakukan layaknya mengundi nasib dengan anak panah yang secara absolut dilarang dalam agama Islam.

17:00
Alarm di handphoneku berdentang keras. Alhamdulillah, di sebelah rental PS3 juga terdapat sebuah warnet. Kala itu penggunaan gadget dan smartphone belum terlalu lazim. Aku mengambil langkah seribu menuju warnet yang hanya berjarak 5 langkah itu. Bodoh memang. Sesegera mungkin aku mengetikkan situs dan menekan Enter. Lalu, aku memasukkan nomor pendaftaran dan tanggal lahirku. Hasilnya:

Selamat!
Gibran Noufal Nugraha, diterima di Program Studi Sistem Komputer, Universitas Andalas.

Whoaaa… aku benar-benar tak terkendali. Bagaimana dengan ketiga sahabatku? Mereka belum seberuntung diriku. Tak satupun dari empat pilihan mereka yang ‘jebol’. Hatiku mulai menjerit, orang macam apa yang menjerit bahagia dikala sahabatnya menangis? Aku hanya terpekur. Untuk menghibur mereka aku hanya bisa berkalimat: Semoga beruntung di Ujian Tulis Kawan.

Hari demi hari, minggu demi minggu berlalu tanpa permisi. Aku mulai disibukkan dengan pra-registrasi. Mencetak apa yang patut dicetak, menulis apa yang patut ditulis. Ternyata, aku melewatkan satu hal:

“Calon mahsiswa yang lulus di program saintek akan digugurkan bila mengidap buta warna total atau parsial”

Mashaa Allah! Aku meraung sampai langit ketujuhpuluh. Aku benar benar tak terima. Bagaimana aku akan melewati semua ini? Seorang pengidap buta warna parsial lulus pada program studi saintek. Ya Allah, berilah kuasamu, kuatkan hambamu, dan persiapkan diriku jika Engkau memberikam kenyataan yang pahit. Aku ikhlas ya Allah

Bersambung…